Selasa, 11 Mei 2010

KATA dan PERBUATAN akan berlalu tetapi KESAN tinggal sampai mati

“Orang mungkin lupa dengan perkataan atau perbuatan kita, tetapi KESAN yang ditinggalkan akan melekat seumur hidupnya…” R$D – 11.05.2010

Jam tua itu sudah menunjukkan pukul 01.15….
Namun sang mata dan pikiran tidak mau bekerja sama dengan fisikku yang lain.
Walau penat mendera dan kantuk terasa, dan sang mata kupejam dengan paksa
Tak dapat juga kuhentikan pikiranku dari perjalanannya.
Entah mengapa sang malam tak dapat membujuk dan merayu pikiranku tuk beristirahat
Enggan waktu kubuang percuma dan tuk menanti sang kantuk tiba, entah kapan,
Kubuka laptopku dan kumulai tarian jariku pada huruf-huruf sesukaku.
Kawan, aku bukanlah pujangga dan penyair, bukan juga pengarang atau sang bintang ternama.
Aku adalah Aku, yang serba sederhana dan ringan dalam menatap semua masalahku.
Aku adalah Aku, yang terbayang kilatan peristiwa-peristiwa masa laluku.
Aku adalah Aku, yang entah mengapa, teringat beberapa luka laluku
Entah apa yang membawanya timbul kembali dari kuburan yang kugali dalam-dalam di dasar pikiranku
Entah mengapa beberapa trauma itu bangkit kembali malam ini
Dan entah mengapa semuanya begitu terasa jelas dan tegas dalam bayangku…
Kawan, sejujurnya aku telah lupa apa yang mereka katakan.
Sejujurnya aku tak ingat persis apa yang mereka lakukan.
Tapi sejujurnya pula sampai saat ini aku masih membenci mereka, entah kenapa.
Aku adalah Aku, yang ingin melupakan kegetiran masa laluku.
Namun pikiran dan perasaanku tak mau melakukannya.
Ya, aku adalah Aku, manusia biasa yang sama denganmu, Kawan….


Teman,

Seperti yang saya uraikan di atas dalam kalimat-kalimat sekenanya dan sesuka hati, saya saat ini hanya tidak dapat tertidur meskipun badan saya sudah terasa lelah dan mata pun terasa mengantuk. Ada beberapa kilasan dari masa lalu saya yang muncul kembali ketika saya sedang melamun dan memikirkan kira-kira materi apa yang cocok untuk saya bawakan dalam ABC Training tanggal 22 Mei 2010 nanti. Memang saya merencanakan akan membahas soal sikap dalam membangun bisnis jaringan. Tetapi anehnya tiba-tiba saja muncul beberapa trauma masa lalu yang masih meninggalkan kesan begitu kuat pada saya padahal saya sudah lupa persis apa kejadiannya. Yang saya ingat bahwa ternyata bahkan sampai saat ini, masih ada perasaan sebal dan benci terhadap beberapa orang yang pernah saya kenal. Sungguh, saya sudah lupa apa persisnya yang mereka katakan atau mereka lakukan. Yang saya ingat adalah bahwa saya dibuat sangat sakit hati pada saat itu dan hal itu membuat bekas yang mendalam di benak saya. Walaupun sebenarnya saya menilai bahwa diri saya bukanlah tipe seorang pendendam, namun luka semacam itu di dalam diri saya tidak bisa terhapus.
Secara pribadi saya jarang sekali bisa terpancing untuk marah terhadap orang lain. Bukan karena saya takut, tapi karena memang saya tidak suka. Saya paling tidak suka melihat orang marah. Alasannya sangat sederhana, karena saya pribadi paling tidak suka dimarahi. Saya selalu melihat bahwa kemarahan biasanya dilakukan oleh orang yang lebih superior, apakah dia lebih tua, lebih kaya, lebih tinggi pangkatnya, lebih kuat fisiknya dan lain sebagainya. Saya melihat kemarahan terhadap orang hanya menunjukkan kelemahan si pemarah dalam memimpin bawahannya. Bagi saya, kemarahan hanyalah sebuah bentuk pelarian dari tanggung jawab ataupun menutupi kelemahannya. Kalau kita mau mengakui secara jujur, coba lihat alasan seseorang untuk marah. Kebanyakan sebenarnya ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Coba saja renungkan sendiri dengan jujur dan lebih dalam.
Kemarahan bagi saya hampir serupa dengan keluhan. Keluhan dan kemarahan hanya membuat orang lain tidak suka dan tidak akan membantu keadaan menjadi lebih baik. Kemarahan bahkan lebih parah daripada keluhan. Apabila keluhan hanya membuat orang lain menyingkir karena tidak suka dengan orang yang selalu mengeluh, maka kemarahan bisa berakibat lebih buruk lagi, yaitu bahkan dapat membuat orang lain sakit hati. Memang dari semua orang yang pernah marah, termasuk saya, selalu mengatakan “gue ga peduli” atau “yang salah kan dia, bodo amat”. Tetapi sesungguhnya itu hanyalah sebuah sikap yang menunjukkan bahwa kita adalah orang yang lemah dan tidak dapat mengatasi masalah, jadi untuk menutupi kekurang tersebut secara tidak sadar reaksi normal yang ditunjukkan adalah marah karena dengan kemarahan biasanya semuanya akan berakhir disitu. Hubungan menjadi putus dan komunikasi menjadi rusak sehingga biasanya sebuah masalah pasti terpaksa berakhir atau berhenti. Persoalannya adalah bahwa masalah tersebut tidak berhenti dengan baik atau malah tidak selesai sama sekali, jadi sama saja bohong.
Bagi saya, dan saya yakin bagi sebagian terbesar manusia, orang yang sanggup menyelesaikan masalah dengan penuh kebijakan dan kebajikan pasti jauh lebih dihargai daripada seorang pemarah. Kalau anda tidak percaya, coba bayangkan dengan sungguh-sungguh seandainya anda berada pada posisi inferior berhadapan dengan orang yang lebih superior dan seorang pemarah. Kalau anda jujur bersungguh-sungguh mau membayangkan, maka saya yakin anda tahu apa yang saya maksud.
Saya pernah membaca kisah tentang Henry Ford. Pernah suatu ketika seorang karyawannya lalai dan menyebabkan sebuah peristiwa yang hampir membuat Henry Ford celaka. Ketika dipanggil oleh Henry Ford, semua orang menyangka bahwa dia akan dimarahi habis-habisan dan dipecat dari pekerjaannya. Tak ada yang menyangka bahwa Henry Ford mengatakan bahwa dia percaya peristiwa itu bukanlah kesengajaan dan bahwa dia yakin si karyawan tersebut akan lebih berhati-hati dan tidak akan mengulang peristiwa yang sama. Sejak saat itu si karyawan tersebut merupakan salah satu karyawan yang terbaik di perusahaan mobil Ford.
Hal lain yang perlu kita perhatikan tentang kemarahan adalah bahwa kemarahan hanya menimbulkan hormon-hormon yang membuat kerusakan dalam diri kita sendiri jauh lebih banyak. Kemarahan juga menimbulkan stres, baik si pemarah mengakui ataupun tidak. Alasan yang paling banyak diajukan biasanya adalah “saya memang tipe seperti itu, kalau ga suka langsung keluar, tapi kalau sudah ya sudah selesai” atau “daripada ditahan-tahan nanti jadi penyakit mendingan dikeluarin”. Menurut saya itu juga cuma alasan yang dipaksakan karena mau ditinjau dari segi kedokteran modern maupun dari ajaran kuno seperti Confusius ataupun Yoga, apalagi dari ajaran agama (apapun), dan ajaran apapun yang pernah dikenal manusia, tidak ada satupun yang mengatakan bahwa marah adalah sesuatu yang baik. Coba cari saja sendiri buktinya.
Apa yang saya maksud di atas bukan untuk melarang seseorang marah, karena saya sadar sesadar-sadarnya bahwa marah adalah emosi alami manusia, sama seperti bahagia dan sedih, cinta dan benci, tawa dan tangis, dan emosi lainnya. Yang saya maksudkan disini adalah bahwa setiap orang silakan untuk marah, tetapi hanya kalau kemarahan itu dapat membuat keadaan lebih baik, bukan malah merusak segala-galanya. Kalau anda merasa tidak akan dapat mengontrol kemarahan anda dan anda tahu bahwa kalau anda marah bisa merusak keadaan, lebih baik anda diam. Ingat, seringkali pepatah “Silence is Golden” itu benar-benar sangat tepat. Daripada kita menyesali apa yang telah kita ucapkan, lebih baik berusaha untuk diam. Sadari sungguh-sungguh bahwa merusak sesuatu dapat dilakukan dalam sekejap, namun seringkali merupakan sesuatu yang mustahil untuk dapat memperbaikinya.
Ingatlah, kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah sama halnya dengan waktu. Sekali terjadi tidak mungkin dapat diambil kembali.
Kata-kata kita akan dilupakan orang, tetapi KESAN yang ditimbulkan terbawa sampai mati.
Teman, siapapun anda, ayo kita jadikan komunitas ini sebagai komunitas terbaik yang bisa dicita-citakan oleh manusia. Saya yakin, anda dan saya, bersama kita pasti bisa!!
R$D, 11.05.2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar